Mar
19

Kewirausahaan Sosial

Posted by aiiazz_secret  //  Uncategorized  //  Comments Off

A. Definisi

  • Kewirausahaan

adalah suatu cara berpikir atau jiwa, sikap, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain.   Kewirausahaan dapat diukur melalui kreativitas dan inovasi. Kreatifitas adalah memikirkan sesuatu hal yang baru sedangkan inovasi adalah membuat sesuatu yang baru.  Dengan kata lain inovasi diibaratkan menjadi bahan bakar, sementara kewirausahaan adalah mesin.

  • Kewirausahaan sosial

adalah disiplin ilmu yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi, dan tekad untuk maju ke depan. Kewirausahaan sosial diharapkan berperan banyak dalam kehidupan masyarakat sekitar lingkungan usaha atau oleh masyarakat luas sehingga dampak positifnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Kewirausahaan sosial bisa menghasilkan produk berupa barang/jasa, ide kreatif yang langsung diimplementasikan sehingga berdampak luas.

Kewirausahaan sosial, ada juga yang mengatakan dengan istilah  social business adalah suatu aktivitas yang tujuan utamanya untuk sosial, yang dikelola dengan pendekatan bisnis. Semua kegiatan bisnis yang ada dalam perusahaan untuk satu  tujuan, yaitu kegiatan sosial, sehingga semua dana yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan sosial wajib dikelola dengan memperhatikan kelangsungan bisnis. Hal ini berbeda jika murni usaha sosial, ketika dana yang diperoleh habis, tak ada kelanjutannya. Sebagai contoh, dana sosial Bill Gates.

Konsep di atas sudah banyak diketahui dan tidak seorangpun menyangkalnya.  Namun banyak yang keliru menafsirkan bahwa enterpreneur pastilah orang yang berbisnis atau trampil berdagang.  Sehingga sering diplesetkan bahwa seorang dosen yang mengajar kewirausahaan haruslah yang ’praktek’ berdagang.

Yang dibutuhkan seorang entrepreneur adalah cara pandang yang inovatif.  Orang itu bisa birokrat, tokoh masyarakat, atau dosen peneliti yang sama sekali tidak tahu atau tidak tega berdagang.  Almarhum Prof Andi Hakim Nasution, dahulu Rektor IPB Bogor, adalah penggagas program perintis II, yakni jalur masuk tanpa tes ke perguruan tinggi pada tahun 1970an.  Mahasiwa tingkat satu IPB mendapatkan proses pembelajaran sangat-sangat intensif, agar terlatih berkreasi dan berinovasi.  Hasilnya, lulusan IPB bisa kerja dimana saja. Ada birokrat, konsultan, LSM, presiden, politisi, peneliti, penyiar TV, musisi hingga petani.  Boleh dikata, Prof Andi berhasil mencetak entrepreneur-entrepreneur.  Apakah beliau juga seorang entrepreneur?

Kewirausahaan sosial lebih menitikberatkan kepada lahirnya bangunan tata nilai sosial, yang dicapai melalui perubahan sosial disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan sosial (Mair and Marty, 2006).    Menurut Martin dan Osberg (2007), perbedaan kewirausahaan individu dan sosial adalah terletak pada mekanismenya.  Mekanisme Kewirausahaan individu adalah mengantisipasi dan mengorganisasikan pasar agar berfungsi menghasilkan produk dan jasa sekaligus profit bagi entrepreneur.   Mekanisme kewirausahaan sosial adalah memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung menjadi lebih berkesempatan untuk mencapai kesejahteraan.  Kewirausahaan sosial memuat tiga komponen:

(i)                 mengidentifikasi sistem/keseimbangan yang menyebabkan kerugian atau berkurangnya kesejahteraan,

(ii)               mengidentifikasi peluang perbaikan keseimbangan, dengan mengembangkan tata nilai sosial baru untuk mempengaruhi tata nilai yang ada, dan

(iii)             menyusun keseimbangan baru, untuk mencegah kerugian dan menjamin kesejahteraan masyarakat luas.

Saat ini konsep kewirausahaan sudah jauh maju dan berkembang.  Secara empirik, faktor sosial dan pemerintah ikut mendorong berkembangnya kewirausahaan, sehingga lahirlah konsep kewirausahaan sosial dan pemerintah.

  • Wirausaha sosial

Wirausaha sosial melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Hasil yang ingin dicapai bukan keuntungan materi atau kepuasan pelanggan, melainkan bagaimana gagasan yang diajukan dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat. Mereka seperti seseorang yang sedang menabung dalam jangka panjang karena usaha mereka memerlukan waktu dan proses yang lama untuk dapat terlihat hasilnya.

Wirausaha sosial menjadi fenomena sangat menarik saat ini karena perbedaan-perbedaannya dengan wirausaha tradisional yang hanya fokus terhadap keuntungan materi dan kepuasan pelangganserta signifikansinya terhadap kehidupan masyarakat. Kajian mengenai kewirausahaan sosial melibatkan berbagai ilmu pengetahuan dalam pengembangan serta praktiknya di lapangan. Lintas ilmu pengetahuan yang diadopsi kajian kewirausahaan sosial merupakan hal penting untuk menjelaskan serta membuat pemikiran-pemikiran baru.

Contoh sukses wirausaha sosial adalah Mohammad Yunus, penerima nobel ilmu ekonomi tahun 2007.  Ia berhasil mengembangkan Grameen Bank untuk kaum miskin di Bangladesh.  Inovasi baru ini  bertentangan dengan kaidah umum target pasar bank, yaitu mereka yang mampu dan berisiko kecil.  Kemacetan akses kaum miskin terhadap bank dipecahkan dengan sistem kredit mikro dikelola dalam pola kelompok.

Konsep kewirausahaan pemerintah berhubungan dengan berkembangnya fungsi layanan pemerintah mengikuti kaidah dan cara berpikir bisnis swasta.  Pola pikir entrepreneur dipelopori oleh pimpinan birokrasi sehingga menghasilkan perubahan  sistem birokrasi yang mendukung kreativitas, inovasi, efektivitas, efisiensi, profesionalitas, dan selalu berorientasi pada kepuasan pelanggan (masyarakat).

Pengembangan kewirausahaan pemerintah, atau lebih spesifik wirausaha birokrat, tidak berarti membentuk kongsi birokrat-pebisnis, sehingga menjadikan kantor pemerintah sebagai perusahaan yang mengambil untung dari masyarakat.   Seorang birokrat harus bisa mengidentifikasi adanya kemacetan dalam birokrasi, menyediakan jalan keluar, dan melahirkan inovasi kelembagaan (capacity building) dan perubahan dari cara berpikir birokratik ke entrepreneur.  Contoh wirausaha birokrat adalah Fadel Muhammad, gubernur Gorontalo, yang berhasil mengefektifkan organisasi pemerintah provinsinya dan menghasilkan pelayanan publik yang sesuai dengan harapan masyarakat.    Kiranya, Prof Andi Hakim juga layak disebut wirausaha birokrat, karena mempelopori dan mengubah sistem PMB tanpa tes dan diakui keberadaannya hingga saat ini.

Salah satu identitas Universitas Widyagama adalah kewirausahaan, yang sejak lama mengisi struktur kurikulum.  Dimanapun anda berada, karyawan, sivitas akademika, dan alumni Universitas Widyagama bisa menjadi wirausaha sosial atau pemerintah.  Kembangkan kreativitas, temukan inovasi, dan berikan jalan keluar untuk memecahkan permasalahan masyarakat atau di lingkungan masing-masing.

  • Kewirausahaan sosial

adalah disiplin ilmu yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi, dan tekad untuk maju ke depan. Kewirausahaan sosial diharapkan berperan banyak dalam kehidupan masyarakat sekitar lingkungan usaha atau oleh masyarakat luas sehingga dampak positifnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Kewirausahaan sosial bisa menghasilkan produk berupa barang/jasa, ide kreatif yang langsung diimplementasikan sehingga berdampak luas.

Kewirausahaan sosial, ada juga yang mengatakan dengan istilah  social business adalah suatu aktivitas yang tujuan utamanya untuk sosial, yang dikelola dengan pendekatan bisnis. Semua kegiatan bisnis yang ada dalam perusahaan untuk satu  tujuan, yaitu kegiatan sosial, sehingga semua dana yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan sosial wajib dikelola dengan memperhatikan kelangsungan bisnis. Hal ini berbeda jika murni usaha sosial, ketika dana yang diperoleh habis, tak ada kelanjutannya. Sebagai contoh, dana sosial Bill Gates tidak semua nya berasal dari dirinya sendiri, namun juga menerima kontribusi dari berbagai kalangan. Kontribusi ini tentu saja tak dapat diandalkan, sehingga bagi siapapun yang ingin terjun dalam kewirausahaan sosial, harus bisa mengandalkan  dana sendiri, disamping itu bisa memperoleh dana dari CSR (Corporate Social Responsibilities) perusahaan. Dana CSR ini juga mengalami pasang surut, sejalan dengan pasang surutnya perusahaan itu sendiri.  Berdasar pengamatan, sekarang makin banyak perusahaan yang melakukan CSR sendiri. Nilai yang diperoleh dari perusahaan yang melakukan CSR nya sendiri adalah masyarakat lebih mengenal perusahaan tersebut, yang tidak hanya bergerak di bidang bisnis, namun juga memperhatikan tanggung jawab sosial masyarakat……sehingga nilai perusahaan meningkat di mata masyarakat, membuat masyarakat juga loyal pada produk yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut, karena tahu sebagian dana keuntungan akan kembali ke masyarakat.

Saat ini Perusahaan  yang bergerak di bidang bisnis, namun punya unit usaha untuk kegiatan sosial, semakin banyak, karena pemilik menyadari bahwa bagaimanapun mereka punya tanggung jawab sosial. Betapa banyaknya perusahaan yang selamat dari kerusuhan saat krisis ekonomi melanda negeri ini, karena perusahaan tersebut memperhatikan kesejahteraan para pekerja, memberikan manfaat untuk tujuan sosial (seperti pemberian beasiswa bagi anak karyawan, yang anaknya pandai, tapi kemampuan ekonomi rendah).

Kedepan mau tak mau akan semakin banyak perusahaan yang menyadari untuk terjun ke kegiatan sosial ini,  membentuk unit kerja atau fungsi tersendiri diantara kegiatan bisnisnya, dan tujuan sosial ini dikelola secara bisnis sehingga bisa terus berkelanjutan.

 

 B.     Ciri-ciri dan Sifat kewirausahaan

Untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausaha adalah:

  • Percaya diri
  • Berorientasikan tugas dan hasil
  • Pengambil risiko
  • Kepemimpinan
  • Keorisinilan
  • Berorientasi ke masa depan
  • Jujur dan tekun

Sifat-sifat seorang wirausaha adalah:

  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik ddan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

C.     Karakteristik Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneur)

Terdapat beberapa pembelajaran tentang kewirausahawan sosial beserta beberapa karakteristik yang dimiliki oleh para pengusaha sosial itu sendiri. Hal tersebut dapat terlihat dari penelitian mengenai kewirausahaan sosial terbagi menjadi beberapa grup sosial sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.

Hal ini pada dasarnya terdiri dari hal-hal yang tidak umum untuk dilakukan dalam kegiatan usaha yang biasanya berjalan secara rutin. Austin Stevenson dan Wei-Skillern berpendapat bahwa pengusaha sosial dan tradisional berbeda dengan pengusahanya sendiri, metode, situasi, dan peluang. Tujuan utama dari pengusaha sosial adalah melayani kebutuhan dasar masyarakat, sementara pengusaha tradisional adalah untuk meraih pasar yang besar kesenjangan dan memperoleh keuntungan, dalam proses bertaraf minimum untuk kepentingan masyarakatnya. Paul C Light mengamati berbagai definisi yang ada pengusaha sosial dan memberikan definisi yang luas yang menganggap bahwa pengusaha sosial adalah individu, kelompok, jaringan, organisasi. Tapi berupaya secara berkelanjutan melalui ide-ide yang berbeda untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang signifikan. Lynn Barendsen dan Howard Gardeber menjelaskan bahwa Pemimpin yang baru sebagai pemimpin yang sadar akan kewajiban mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang sifatnya positif. Gillian et al. berpendapat bahwa hanya keterampilan saja tidak membuat kewirausahaan dapat dikatakan sebagai seorang pengusaha sosial. Sebaliknya seorang pengusaha sosial juga memerlukan persimpangan virtuousness, kesempatan sosial, pengakuan, dapat menghakimi, bersifat toleransi, dan inovasi.Robert Ronstadt kewirausahaan didefinisikan sebagai proses yang sifatnya dinamis namun dapat menciptakan kekayaan yang sifatnya penting.

Dalam pandangan pengusaha, kekayaan diciptakan oleh orang-orang yang mengambil risiko besar dalam hal waktu, karier, dan komitmen untuk memberikan nilai dalam beberapa produk atau layanan. Nilai diinfuskan dengan mengamankan dan mengalokasikan keterampilan yang diperlukan dan sumber daya. Sarah H Alvord membuat analisis komparatif dari tujuh kasus kewirausahaan sosial yang secara luas telah diakui sebagai sesuatu yang dianggap sukses. Mereka mengenali perbedaan-perbedaan dalam bentuk tujuh organisasi yang memperkenalkan inovasi. Thomson mendefinisikan pengusaha sosial sebagai orang-orang dengan sikap pengusaha bisnis, tetapi beroperasi di masyarakat. Mereka bertindak lebih sebagai pengasuh dari masyarakat dan bukan sebagai pengusaha yang dengan mudah menghasilkan uang. Gregory Dees mengidentifikasikan pengusaha sosial sebagai pengusaha yang langka. Dia menggambarkan satu set ciri-ciri luar biasa pengusaha sosial dengan menekankan bahwa masyarakat harus mendorong dan memberi balasan kepada orang dengan kemampuan yang sifatnya unik.

Hal ini tentunya sangat bergantung kepada bagaimana isi dari gagasan yang kita tawarkan, pada dasarnya agar gagasan serta ide yang kita tawarkan bisa diterima oleh masyarakat kita harus memiliki misi sosial di dalamnya semata-mata hanya untuk membuat masyrakat dapat terbebaskan dari permasalahan yang terjadi. Dalam pelaksanaan pengimplementasian gagasan tersebut pastinya kita akan mendapatkan banyak sekali permasalahan, seorang jiwa wirausaha sosial (social entrepreneur) harus mempunyai kemampuan pengelolaan risiko (risk management) agar dapat menuntaskan apa yang menjadi idenya tersebut. Kemampuan mengelola risiko ini merupakan suatu hal yang penting agar kita dapat memastikan bahwa program yang ditawarkan berjalan secara berkelanjutan.

D.      Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.

Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.

Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:

  • Menciptakan lapangan kerja
  • Mengurangi pengangguran
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat
  • Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
  • Meningkatkan produktivitas nasional

E.      Referensi

    1. ^ (Inggris) Vasudha Vasakaria. A Study on Social Entrepreneurship and the Characteristics of Social Entrepreneur, The Icfaian Journal of Management Research, Vol. VII, No. 4, 2008. Hlm. 35
    2. ^ Karen Braun, Social Entrepreneurship: Perspectives on an Academic Discipline. Theory in Action, Vol. 2, No. 2, April 2009.
    3. ^ A.B. Susanto. 2007. Corporate Social Responsibility. Jakarta : The Jakarta Consulting Group, hal. 54
    4. ^ (Inggris), Roger.L . Martin & Sally Osberg. Social Entrepreneurship: The Case For Definition. 2007. Stanford Social Innovation Review. Jr,University.page 3-4
    5. ^ (Inggris)John Elkington & Pamela Hartigan, The Power of Unreasonable People: How Social Entrepreneurs Create Markets That Change the World Chapter 1: Creating Successful Business Models. USA: Harvard business school press. page. 76
    6. ^ Peter Drucker, 1985. Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. New York: William Heinemann Ltd. hlm. 67
    7. ^ Peter Drucker, 1985. Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. New York: William Heinemann Ltd. hlm. 67
    8. ^ Karen Braun, Social Entrepreneurship: Perspectives on an Academic Discipline. Theory in Action, Vol. 2, No. 2, April 2009. Hlm. 75.
    9. ^ (Inggris)Karen Braun, ibid, page. 98
    10. ^ Hendrik Budi Untung. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta : Sinar Grafika. hlm. 23
    11. ^ A.B. Susanto, ibid, hlm. 67
    12. ^ >(Inggris) Jerry Z. Muller 2002. The Mind and The Market. Alfred A. Knopf: New York. Page. 78
    13. ^ (Inggris)Jerry Z Muller, ibid, hlm. 41
    14. ^ Karen Braun, Ibid,. Page. 78
    15. ^ Vasudha Vasakaria, Ibid,. Hlm. 3
    16. ^ Peter Drucker, Ibid., page. 42
    17. ^ Peter Drucker, Ibid., page. 42
    18. ^ a b c (Inggris) Braun, Karen. Social Entrepreneurship: Perspectives on an Academic Discipline. Theory in Action, Vol. 2, No. 2, April 2009. Hal. 34
    19. ^ John Elkington & Pamela Hartigan, Ibid,. Page. 13
    20. ^ John Elkington & Pamela Hartigan, Ibid,. page. 15
    21. ^ Wahyudi, Isa & Busyra Azheri. 2008. Corporate Social Responsibility: Prinsip, Pengaturan dan Implementasi. Malang : In-Trans Publishing
    22. 22.  ^ a b c d (Inggris)Matin, Roger L. & Sally Osberg. 2007. Social Entrepreneurship: The Case for Definition. Leland Stanford Jr. University
    23. Wikipedia
    24. http://iwanuwg.wordpress.com//
    25. http://edratna.wordpress.com//
    26. http://www.gunadarma.ac.id//

 

 

Comments are closed.

My Stationery

Larasayaas

This blog contains all the activities of the task or about life

Authors

Twitter

Calendar

March 2012
M T W T F S S
« Jan   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Media

"Larasayaas"

Blogroll

Delicious


Life Category

 

http://www.Facebook.com
http://www.Twitter.com